Rabu, 17 Juni 2010
Pendakian G. merbabu yang menggelikan. (Mission Failed, tapi semoga dapat pahalanya. Ameeen.)
Hmmm… mulai dari mana ya awal mula ceritanya
Saat itu jam menunjukkan pukul 15.30, aku dan teman-temanku sedang mempersiapkan peralatan2 yang dirasa penting ketika pendakian. Setelah selesai kemas-kemas, aku bergegas menuju truk-truk yang telah lama menunggu di depan Ma’had, tak lupa aku membawa hape yang telah tercharge penuh buat foto-foto-an di atas gunung.
Maka, berjalanlah ke-empat truk itu dengan tenang (emang mau mati? ), saat itu aku berada di atas truk yang dinaiki santri-santri kelas X. dalam perjalanan itu kami perbincangan ngalor ngidul menemaniku dan santri-santri (emang tau ngalor-ngidul?), maklum lah, agak susah ngajak mereka untuk berbicara mengenai urusan-urusan yang agak berat. Yah paling tidak itung-itung untuk mengakrabkan mereka. (sebenarnya kemauanku juga sih untuk ‘ndobos’ gak karuan seperti itu. Hehe).
Sesampainya di Selo, Boyolali, waktu menunjukkan pukul 19.25, kami terpaksa diturunkan di depan masjid…. (apa yah? Lupa neh... pokoknya di masjid lereng gunung) karena truk-truk itu sudah tidak kuat lagi mengangkut kami. Maka mau tidak mau kami harus ikhlas melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, tapi sebelum itu, tak lupa sholat Maghrib Isya kami kerjakan, lalu dilanjutkan dengan jampi-jampi eh wejangan taushiyyah singkat yang disampaikan oleh ust. Zainal Abidin tapi aku nggak denger apa isinya, karena setelah sholat, aku bergegas mencari sosok karung. Karung itu tidak sembarang karung karena di dalamnya ada persediaan bahan makanan yang dibutuhkan aku dan orang-orang di sekitarku. Langsung saja setelah menemukan karung itu, aku meminta pada petugas bagi makanan untuk memberikan aku satu bungkus nasi plus lauknya, tapi jangan salah karena teman-teman yang lain juga sudah lebih dahulu makan. Setelah semua beres, aku dan kawan-kawan melanjutkan missi ini menuju base camp yang telah ditentukan. Terus santri-santrinya dikasih makan nggak? Ya sudah tentu lah, tapi cuma dibagikan doing, belum dimakan, makannya kalo dah sampai di base camp.
Hati ini berbunga-bunga ketika nampak sesosok penampakan base camp dari jauh () tak sabar untuk istirahat sejenak sebelum memulai pendakian yang kata orang-orang sungguh amat berat (ah bodo amat). Tak lama kemudian, terdengar rintik-rintik hujan di luar membuat ramai genteng base camp, aku berdo’a agar Allah semakin menderaskan hujanNya agar pendakiannya ditunda (hehe cemen ya?) tapi akhirnya do’a itu belum terkabulkan. Maka dimulailah pendakian itu, dan santri-santri pun telah melahap habis ransumnya dan telah pula berbaris rapi jali di jalanan. Aku dan teman-teman mengambil stand di belakang dengan ‘niatan sampingan’ jadi tim penyapu.
Ternyata omongan orang-orang memang benar. Mendaki gunung Merbabu itu sulit, dan aku sekarang sedang mengalaminya. Jalan yang dilalui adalah jalan setapak yang hanya cukup dilalui oleh satu orang saja, belum lagi licin dan becek (gak ada ojek) karena guyuran hujan tadi, masih mendingan jalan itu seandainya berbatu, ini nggak, semuanya tanah sampai-sampai ada teman yang terperosok je jurang untung cuma lecet-lecet. Bagaimana nggak terperosok, lha wong keadaan udaranya lagi kena rabun dekat jauh (maksudnya berkabut) truz lampu senter yang dipakai sinarnya gak terlalu terang, wal hasil banyak yang kesandung kakinya, untung bukan matanya. (semoga dapat pahala yang banyak, amin). Sedangkan aku memakai lampu senter yang jadi satu dengan hape jadul, keren kan??? Sinar lampunya nggak terlalu terang... (miris)
To the point…..
Setelah enam jam jalan, Alhamdulillah kami sampai di wilayah sabana 1 sekitar jam tiga. Di situ aku, Setelah enam jam jalan, Alhamdulillah kami sampai di wilayah sabana 1 sekitar jam tiga. Di situ aku, kawan dan santri-santri istirahat sambil tidur-tiduran dan akhirnya tidur beneran J. sekitar jam 04. 45 adzan shubuh berkumandang, emang ada masjid? Yang adzan santri laah… wuiih dinginnya udaranya. Aku bangun dengan kesakitan karena paha dan jari-jari kakiku kram. Sakitnya masyaAllah kaya dipukul palu 1 kilo. Kucoba tenang dan tidak berteriak. Kalau merintih dan teriak nanti disangka orang cemen lagi… Alhamdulillah setelah melalui masa-masa kritis, kaki dan paha itu normal kembali. Segera aku bertayammum dan menunaikan sholat. Setelah itu, aku menunggu pagi dan tidak menunggu matahari muncul. Aku tidak ingin berangan-angan dengan mengharap matahari tersenyum padaku, karena cuaca saat itu berkabut dan mendung. Jadi mustahil tanpa izin Allah sang surya menampakkan batang hidungnya (emang punya hidung?) kulihat santri-santri telah menyebar ke segala penjuru sabana dan mengambil gaya posenya masing-masing, termasuk aku J, tapi aku tidak menggunakan hapeku yang sedari awal aku niatkan untuk foto-foto, karena backgroundnya menurutku jelek, wal hasil, hapeku yang sedari awal aku niatkan untuk foto-fotoan gak jadi dipakai, aku ikut nebeng orang2 yang ambil posenya. Jadi, hasilnya lumayan juga, aku banyak nampang di kamera-kamera mereka.
Yang membuat aku kecewa lagi ternyata perjalanan itu dihentikan sampai di situ, tidak dilanjutkan lagi karena persediaan gudang telah menipis dan waktu yang tidak memungkinkan. But no problem, pasti ada hikmahnya perjalanan itu gagal. Setelah puas berpose layaknya model para santri dan asatidzah kembali menuruni gunung dan kembali lagi menaiki truk-truk yang kemarin telah mengantarkan aku dan kawan-kawan berangkat.
Sabtu, 21 Agustus 2010
Diposting oleh
khosieghozie
di
17.07
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar