Waktu aku kelas 2 (dua) ka-em-ie di Ponpes Al Islam dulu, (yah kalo' di luar sih setara dengan kelas dua es-em-pe), aku merasa menjadi orang yang pualing malang...betapa tidak? aku sering dijadiin sebagai bahan cemoohan ma temen2, istilahnya jadi pecundang gitu. sering dipanggil ma bagian kesantrian, bendahara ma'had, bahkan direktur pondok yang kesemua pemanggilan itu adalah hal yang berkenaan dengan sesuatu yang tidak mengenakkan hati...sampai-sampai dulu aku pernah berniat tidak ingin hidup di dunia ini karena aku ngerasa tidak ada gunanya lagi aku hidup (hehehe... melankolis ya..? itu mah dulu tapi sekarang beda.... ;-) )Kayaknya aku dulu nggak pernah merasakan kebahagiaan walau sedikitpun. Setiap hari perasaanku mesti selalu dihantui dengan perasaan was-was yang tidak pernah bisa berkompromi walau sedetikpun. perasaan itulah yang menjadikan aku rendah diri di hadapan kawan-kawan dan sejak itulah aku selalu menyendiri dan introvert dengan yang lainny. terkadang terbetik dalam hatiku untuk membalas dendam pada orang-orang yang menjadikan aku seorang pecundang, tapi apa daya tubuhku waktu itu sangatlah kecil dan aku tidak mempunyai pendukung...( eh dapet pahala nggak ya...klo berniat yang jelek tapi ngga' terlakukan seperti peristiwa ini? :-D)
Tapi seiring berjalannya waktu, detik demi detik, menit ke menit bahkan bertahun-tahun berlalu ternyata ada hikmahnya Allah memberi semua ujian ini padaku. aku teringat waktu masih kecil (tapi nggak kecil-kecil amat lah) sekitar kelas dua es-de, aku sering nangis, waktu tu aku masih kidal, (tau kan kidal? itu lho yang dominan ngelakuin sesuatu dengan tangan kiri! klo dah tau...aku ta'kid lagi biar dhobit :-) ) aku sekelas adalah orang yang berbeda sendiri, karena waktu nggambar pegunungan desa aku make tangan kiri, sedangkan temen-temen yang lainnya pake tangan kanan. demi melihat perbedaan itu, aku menganggapnya sesuatu yang tidak lazim, dan kemudian mataku berkaca-kaca dan nangis meraung-raung kayak harimau gitu...dan dengan tergopoh-gopoh pula ibu guru (waktu itu ibu guru yang perhatian banget ma murid-muridnya, klo pak guru mah cuek itik aja) menghampiri untuk menenangkanku. makacih yo ibu pertiwi, eh ibu guruku yang cantik...kau selalu ada di hatiku........ Adalagi peristiwa yang menunjukkan bahwa klo aku dulu itu adalah orang yang cengeng. waktu itu pak guru (sama, pas aku kelas dua es-de juga) manggil aku yah, truz cuma nanya tentang pe-er yang lupa tak kerjain di rumah, dan sialnya lagi buku pelajarannya ketinggalan di rumah (emang badung yak aku dulu? walau badung tetap sholeh lho...! hahaha narsis bro!) beliau cuma nanya dorang eh duren eh salah lagi, cuma nanya doang tapi... tanpa aba-aba, bendungan di mataku tiba-tiba jebol dan mengakibatkan kebanjiran yang tak terbendungkan. persis kayak kejadian Situ Gintung...hahaha terlalu hiperbola ya. itu mah dulu... sekali lagi itu dulu...............................
Sekali lagi, itu dulu (lebih seru diucapin sama-sama dengan nada koor). Dan sekarang aku selalu mensyukuri kehidupanku ini walau bagaimana keadaannya. Hikmah itu lebih manis daripada sekarung madu. banyak sekali kenikmatan yang Allah berikan padaku di sela-sela ujian yang menimpaku selama aku menjalani hidup ini. Allah mengirimkan sahabat-sahabat sejati yang selalu menemaniku di saat suka maupun duku eh duka...
terima kasih kuucapkan pada Kak Panji, Kak Nur Shubhi, Kak+Ust Uqbah, Khoiruddin, Syarif, Taufiq, Rosyidi, Fatkhur Rozi, Rendy, Luqman, Arif, Iwan Bandung, Syahrul Pasuruan...merekalah sahabat sejatiku yang selalu peka dengan diriku. ketika sedih, hati mereka (emang tau yak? yah tau dari gelagatnya lah. dzahirnya kan keliatan.) merasa nggak tenang. dan selalu menghiburku. ada lagi temen yang gokil abiz namanya Ghozie, aku sedikit terhibur dengan sikapnya dan aku enjoy saja. ( bersambung dulu ya--gak cukup ni waktunya...! bersambung....


0 komentar:
Posting Komentar